Paulus Roy Saputra, Rusgianto

Dosen Tetap Prodi Pendidikan Matematika FKIP UNRIKA Batam

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan membandingkan keefektifan pembelajaran geometri berbantuan cabri dan pembelajaran geometri berbantuan geogebra ditinjau dari prestasi belajar, berpikir kreatif, dan self-efficacy siswa SMP. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu desain pretest-posttest non equivalent group design. Penelitian ini menggunakan dua kelompok eksperimen tanpa kelompok kontrol. Populasi penelitian ini mencakup seluruh siswa kelas VII SMP Santa Maria Banjarmasin. Sampel dua kelas, yaitu kelas VIIA dan kelas VIIB ditentukan secara acak. Kelas VIIA menggunakan pembelajaran geometri berbantuan cabri dan kelas VIIB menggunakan pembelajaran geometri berbantuan geogebra. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ditinjau dari prestasi belajar, berpikir kreatif, dan self-efficacy siswa: (1) pembelajaran geometri berbantuan cabri efektif, (2) pembelajaran geometri berbantuan geogebra efektif, (3) terdapat perbedaan pembelajaran geometri berbantuan geogebra dan cabri; (4) pembelajaran geometri berbantuan geogebra lebih efektif dari pembelajaran geometri berbantuan cabri.

 

Kata Kuncicabri, geogebra, prestasi belajar, berpikir kreatif, dan self-efficacy

 

Pendahuluan

Pemerintah memberikan prioritas yang tinggi pada perkembangan sektor pendidikan, didasarkan pada asumsi bahwa melalui pendidikan pembangunan bangsa Indonesia akan berhasil dengan baik. Didukung dari hasil minyak bumi, gas alam, kekayaan hewani, dan kekayaan hayati tanpa sentuhan tehnologi tentulah tidak dapat dikembangkan secara maksimal. Sentuhan teknologi ini dimulai dari tingkat awal sampai yang tertinggi. Utamanya untuk memiliki kompetensi tehnologi tingkat tinggi diperlukan warga negara yang memiliki pendidikan tinggi pula. Namun dibalik perkembangan itu, warga negara Indonesia tersebut di atas, masih menghadapi permasalahan yang berat, yaitu kualitas sumber daya manusianya sampai saat ini masih di bawah negara-negara tetangga.

Hal yang disebut di atas, bisa dilihat pada salah satu kualitas kemampuan siswa menengah pertama dalam matematika di Indonesia pada skala internasional yang cukup memprihatinkan. Fakta ini bersumber dari Programme for International Student Assessment (PISA, 2009: 135). Penelitian ini tujuannya untuk perbandingan atau benchmarking literasi matematika di berbagai negara di dunia. Menempatkan posisi Indonesia pada ranking 61 dari 65 negara partisipan. Fakta lainnya yang cukup memprihatinkan, bersumber dari hasil riset Global Creativity Index (GCI, 2011:41). Penelitian ini melakukan perbandingan kreatifitas dalam berbagai inovasi dan tehnologi diberbagai negara di dunia. yang menempatkan posisi Indonesia di 81 dari 82 negara yang menjadi partisipan.

Banyak faktor yang diduga sebagai penyebab masih rendahnya kualitas kemampuan matematika siswa sekolah. Salah satunya adalah pembelajaran matematika yang masih dianggap sulit oleh siswa. Contohnya, salah satu materi yang cukup sulit dalam pembelajaran matematika adalah geometri. Hal tersebut terungkap dari Persentase Penguasaan Materi Soal Matematika, ujian Nasional sekolah SMP Santa Maria Banjarmasin. Bisa di lihat pada tabel 1. Daya serap siswa terhadap materi bangun datar :

Tabel 1

Hasil Ujian Nasional Matematika di SMP Santa Maria Banjarmasin

Pada tabel 1 di atas menunjukkan bahwa prestasi belajar pada geometri khususnya materi bangun datar segi empat dan segitiga mulai dari tahun hasil UN 2008-2010 masih berada di bawah standar KKM pada sekolah SMP Santa Maria Banjarmasin yaitu 70.

Berdasarkan hasil wawancara, guru matematika SMP Santa Maria Banjarmasin mengatakan bahwa pembelajaran geometri termasuk pembelajaran yang sulit bagi siswanya. Khususnya pada materi bangun datar (segi empat dan segitiga). Salah satu faktor yang cukup menjadi pertimbangan adalah faktor usia anak yang masih baru saja lulus dari sekolah dasar. Pada usia seperti itu siswa masih tahap pengalaman pictorial/gambar (iconic), yang mana masih sangat membutuhkan visualisasi spasial melalui serangkaian gambar-gambar atau grafik untuk memahami bentuk geometri secara jelas.

Faktor lainnya, pokok bahasan bangun segitiga dan segi empat merupakan pokok bahasan terakhir pada semester II, sehingga banyak mengaitkan konsep materi sebelumnya yang berkaitan. Selain itu juga, siswa sering terbalik dalam memahami sifat-sifat bangun datar dalam bangun segi empat. Salah satu contohnya, pemahaman sifat-sifat pada persegi dan belah ketupat yang mirip (sisi-sisi yang berdekatan sama panjang) sehingga menyamakan bangun persegi adalah belah ketupat. Dalam proses pembelajaran matematika, guru juga masih menggunakan peralatan seadanya seperti busur, penggaris, dan papan tulis untuk menjelaskan materi, hal ini juga menjadi faktor penting dimana minimnya inisiatif guru menyediakan media belajar/alat bantu dalam mengatasi permasalahan yang terjadi antara kebutuhan visualisasi spasial kepada siswa, faktor umur anak, dan pentingnya penggunaan media belajar yang mampu memberikan pemahaman yang lebih luas kepada anak.

Mengamati proses belajar mengajar di lapangan, guru juga masih menerapkan pembelajaran konvensional, umumnya guru lebih mendominasi proses belajar mengajar sehingga pembelajaran cenderung monoton yang menyebabkan siswa merasa jenuh dan tidak menarik.  Hal ini juga berakibat, minimnya pengalaman yang bermakna dibenak siswa untuk bisa memahami konsep bangun segitiga dan segi empat. Selain itu juga guru belum menerapkan pembelajaran yang memacu siswa untuk berpikir kreatif. Alasannya karena guru harus dikejar oleh waktu untuk menyelesaikan kurikulum yang diformalkan, sehingga tidak cukup waktu untuk melaksanakan.