Pendidikan Karakter Dalam Lagu “Dondong Opo Salak” (Perspektif Islam)

Suryo Hartanto, ST, M.Pd.T

Dosen Tetap Program Studi Pendidikan Matematika

Sebuah lagu merupakan curahan hati dari sang penciptanya, menulis baris demi baris bait lagu tentu mempunyai makna atau pesan yang akan disampaikan kepada pendengar lagunya. Mengusik tentang lagu “dondong opo salak” dalam syair bahasa jawa, yang dipopulerkan pertamakali oleh penyanyi senior Krisbiantoro sekitar tahun 60-70-an, lagu tersebut adalah lagu  anak-anak, namun didalam syairnya yang lugas, tidak berbelit-belit dan mudah dipahami, apabila didalam,i akan memberikan pemahaman makna tentang pekerti yang luhur. Kira-kira seperti dibawah ini syair lagu tersebut.

Dondong opo salak, (Buah dondong, apa buah salak). Duku cilik-cilik, (Buah duku kecil-kecil) . Andong opo becak  (Naik kereta kuda atau naik becak) , Mlaku thimik-thimik.  (Jalan pelan-pelan)

Tidak perlu lama untuk menghafalkan lagu sedemikian pendek, mudah diingat. Kalau diperhatikan, buah-buahan yang disebutkan diatas bukanlah buah istimewa yang harganya selangit, ataupun mungkin buah impor, buah tersebut adalah buah lokal dan bahkan buah yang  murah, namun kemudian apabila kita berikan makna falsafah dalam buah tersebut tentu akan lain ceritanya.

Buah dondong/kedondong: seperti yang kita ketahui buahnya halus pada bagian luar, namun setelah kita makan, seperti apakah isinya?, berduri , teksturnya berantakan, bahkan kita harus berhati-hati untuk memakanya. Makna dalam hidup mengenai buah kedondong, menjadi manusia seharusnya antara lahir dan batin adalah sejalan. Apabila antara lahir dalam hal ini ucapan dan tingkah laku tidak sama dengan isi hati, bisa disebut dengan orang yang culas, bahkan dalam  islam, orang yang bertingkah seperti tersebut dianggap orang munafik, antara perbuatan dan ucapan sudah jauh berbeda. Dijelaskan dalam hadist berikut

Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga. jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika dipercaya ia berkhianat”. (HR Bukhari)

 Buah salak : buah yang satu ini berbalik dengan buah kedondong, seperti kita ketahui, buah salak, daging buahnya ditutup oleh kulit yang terlihat bersisik dan tajam, susah untuk di buka, tentunya masih banyak buah yang seperti  demikian, tampak luarnya saja yang tidak bagus, namun dalamnya sangat kita suka. Dalam kehidupan, bersosial dan bermasyarakat kita tidak boleh hanya melihat dan menilai seseorang dari tampak luarnya saja, tampak dari luar memang tidak baik, belum tentu isi hatinya. Kalau bahasa sekarang yang familiar adalah “inner beauty”. Pergaulan dimasa masa sekarang telah mendewakan penampilan saja, sehingga apa yang ada didalam seolah dapat ditutupi semuanya oleh penampilan luar. Tentang buah salak dalam kejadian saat ini adalah , apa saja yang luarnya tidak baik maka angapannya tentu bagian dalam juga tidak baik. Sikap yang demikian dalam agama islam bisa dianggap bersuudzan kepada orang lain, karena selalu menilai dari kulit luarnya saja.                                   

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari persangkaan (zhan) karena sesungguhnya sebagian dari persangkaan itu merupakan dosa.” (Al-Hujurat: 12)

Buah Duku: Meskipun buahnya kecil, namun buah ini seharusnya menjadi wakil dalam memfilosofi hidup kita, kulit luar dan isinya sama, luarnya halus dalamnya pun demikian. Sudah seharusnya watak manusia yang beradab, berpendidikan dan berakhlak, paling tidak beriman kepada tuhanya, akan menjalankan kebaikan, bertingkah laku layaknya gambaran buah duku, meskipun kecil antara kulit dan isinya sama-sama menunjukkan hal yang baik.

Di lanjutkankemudian dengan syair lagu selanjutnya. Andong Opo Becak, Mlaku thimik-thimik, makna dengan bahasa Indonesia adalah memilih naik andong atau becak, apa jalan pelan-pelan. Kalau kita maknai, kenapa harus memilih antara naik andong atau naik becak, tetapi kemudian ternyata yang dipilih adalah dengan jalan pelan-pelan. Berjalan menuju sebuah tujuan atau menggapai sebuah tujuan seharusnya dilakukan dengan pelan namun pasti, bukan mengambil jalan pintas, jalan yang memanfaatkan jerih payah orang lain atau dengan tenaga orang lain, sementara kita hanya berpangku tangan mengandalkan uang dan sesuatu yang dapat membeli tenaga atau jasa seseorang. Andong adalah filosofi dimana kita menggunakan tenaga kuda dan sang kusir untuk menuju sebuah tujuan, naik becak juga demikian, menggunakan tenaga sipengayuh becak untuk menuju sebuah tujuan. Semua perilaku menggunakan tenaga orang lain atau tangan kedua, dalam hal ini adalah memperlancar kegiatan dalam artian yang positif tentu tidak akan bermasalah namun apabila tujuanya adalah yang negative tentu sudah melanggar aturan,norma-norma yang berlaku di masyarakat, norma hukum, norma agama, norma sosial dan budaya. Dalam sebuah ayat  al-quran dituliskan

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5)

Semua daya upaya dalam kehidupan tidak akan pernah lepas dari cobaan dan ujian, mencari sesuatu atau mengusahakan sesuatu tentu ada pengorbanan, untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan sifat pantang menyerah, bersungguh-sungguh dalam menjalankan apa yang diinginkan, insyaallah akan tercapai dengan baik.

Pada syair “mlaku thimik-thimik”, jalan pelan-pelan, merupakan sebuah presentasi kesunguh-sunguhan dalam menjalankan upaya menuju tujuan. Dalam sebuah novel yang pernah saya baca, tentunya novel inspiratif, terdapat kalimat yang berbunyi “manjadda wa jadda”  yang artinya kurang lebih adalah, barang siapa bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan hasil. Sebuah usaha dan kesungguhan hati, dalam artian antara usaha dan doa, dipompakan dengan semangat juang, tidak ada hal yang mustahil untuk didapatkan.

Kembali kepada topik pendidikan, perkembangan jaman yang luar baiasa pesat, baik dari segi teknologi dan budaya, saat ini sudah sangat jarang ditemukan di sekolah-sekolah, menyampaikan pendidikan karakter melalui media lagu atau kegiatan lain, kita ketahui pendidikan karakter adalah upaya didalam membangun generasi yang santun, generasi yang cerdas, generasi yang menghargai orang lain, intinya adalah generasi yang berakhlak. Salah satu bukti pendidikan karakter yang gagal saat ini adalah siswa tawuran, hampir semua pemberitaan dimedia masa, tawuran pelajar terjadi di seluruh pelosok negeri. Adakah yang salah dengan system pendidikan Negara kita, yang biasa terdengar adalah setiap tahun selalu dibebankan standar nilai kelulusan semakin tinggi, apa yang terjadi kemudian, kong kalikong antara siswa dengan siswa, agar bisa lulus bagus, bahkan gurupun berperan terjadinya kecurangan membocorkan kunci jawaban dalam ujian nasional.

Harapan yang terbesar saat ini sebagai salah satu pendidik adalah memulai dari diri pribadi, untuk selalu menanamkan moral dan etika dalam setiap belajar mengajar, minimal bisa dimulai dari pendidikan keluarga, selalu mengingatkan pribadi masing-masing bahwa berperilaku jujur, adil tidaklah sesuatu yang kampungan atau kuno. Menjadi guru hebat tidaklah mudah, namun tetap harus dimulai,  Seperti  yang juga disampaikan oleh William Arthur ward, penulis paling inspiratif  pada fountain of faith, Amerika. Guru yang biasa, berbicara. Guru yang bagus, menerangkan. Guru yang hebat, memperagakan. Guru yang agung, member inspirasi.  Maka pilihan jatuh pada diri kita masing-masing, akan seperti guru yang manakah kita..?

BATAM DAN ANCAMAN KELANGKAAN AIR BERSIH

ISMARTI,S.SI,M.SC 

(DOSEN TETAP PRODI PENDIDIKAN MATEMATIKA FKIP UNRIKA BATAM)

Tulisan ini telah dimuat di Halaman Opini Harian Batam Pos, Tanggal 25 Maret 2013)

Peringatan Hari Air Sedunia, 22 Maret lalu merupakan wujud keprihatinan masyarakat dunia akan kondisi sumber daya air.  Air, benda yang paling berharga di dunia, saat ini mengalami penurunan kualitas.  Persediaan air, saat ini sudah sampai pada tahap yang kritis.  Bukan hanya di Indonesia, tetapi masyarakat dunia pun menghadapi persoalan yang sama.  Saat ini, 1,2 miliar penduduk dunia tidak mempunyai akses air bersih dan hampir dua kali lipatnya tidak mempunyai fasilitas sanitasi yang memadai. Dari tahun ke tahun di berbagai daerah selalu terjadi kelangkaan dan kesulitan air.  Kecenderungan konsumsi air naik secara eksponensial, sedangkan ketersediaan air bersih cenderung berkurang akibat kerusakan dan pencemaran lingkungan.

Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi, degradasi lingkungan pada daerah tangkapan air, konflik antar pengguna air, fungsi badan pengelola air yang belum optimal dan efisien, mengakibatkan fungsi sosial dan ekonomi air pun terganggu.  Konversi lahan mengakibatkan terganggunya siklus hidrologi yaitu berkurangnya resapan air dan tingginya run off.  Tingginya tingkat pengambilan air bawah tanah oleh industri dan ketidakpedulian masyarakat sebagai pengguna air juga merupakan pemicu penurunan kualitas dan kuantitas air.

Air  merupakan salah satu kebutuhan yang vital dan merupakan unsur dasar bagi kehidupan di bumi.  Lebih dari 70 persen komponen penyusun makhluk hidup adalah air.  Tanpa air, berbagai proses kehidupan tidak dapat berlangsung dengan baik. Manusia pada dasarnya hidup di planet  air sebab 70 persen permukaan bumi dikelilingi oleh air. Selama hidupnya manusia memerlukan sekitar 16 ribu galon air.  Untuk memenuhi kebutuhan dasar, rata-rata manusia memerlukan 2 liter atau sekitar 8-10 gelas air perhari.  Di Indonesia, kebutuhan air per hari per orang rata-rata 160 liter.  Dari sejumlah itu 100 liter untuk keperluan mandi, cuci, kakus, dan sisanya sebanyak 60 liter untuk keperluan lain seperti menyiram dan mencuci perabotan rumah-tangga.  Konsumsi air tawar pada komunitas manusia bertambah sejalan dengan perkembangan budaya dan kemajuan teknologi.

Kepulauan Riau merupakan wilayah kepulauan yang sangat mengandalkan sumber air permukaan sebagai sumber air baku yang dimanfaatkan sebagai air minum.  Terdapat 43 waduk yang tersebar di Kota Tanjungpinang, Kota Batam, Kabupaten Lingga, dan Kabupaten Karimun.  Di Pulau Batam, Otorita Batam membangun waduk-waduk untuk menampung air hujan sebagai sumber air baku untuk penyediaan air bersih. Berdasarkan inventarisasi Pemprov Kepulauan Riau, di Kota Batam telah dibangun 13 waduk dan 6 diantaranya sudah dimanfaatkan sebagai sumber air baku.  Keenam waduk inilah (Waduk Sei Harapan, Sei Baloi, Sei Nongsa, Sei Ladi, Mukakuning dan Duriangkang) yang mensuplai kebutuhan air bersih di Kota Batam dengan total kapasitas 3.850 lt/dt (BP Batam, 2013).  Selain itu, di Kota Batam saat ini sedang dilakukan pembangunan Waduk Tembesi dalam rangka peningkatan ketersediaan air bersih untuk mangantisipasi kebutuhan air warga Kota Batam.

Kondisi air digambarkan dengan kualitas dan ketersediaannya (kuantitasnya).  Kualitas air berhubungan dengan kelayakan pemanfaatannya, sedangkan ketersediaan air berhubungan dengan barapa banyak air yang dapat dimanfaatkaan dibandingkan dengan kebutuhannya.

Penentuan kualitas air sungai dan sumber air lainnya dilakukan dengan mengacu pada Peraturan Pemerintah No 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.  Berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001, mutu air ditetapkan menjadi 4 kelas yaitu: air kelas I (air yang peruntukkannya untuk air baku air minum), air kelas II (air yang peruntukkannya untuk sarana rekreasi air), air kelas III (air yang peruntukkannya untuk budidaya perikanan), dan air kelas IV (air yang peruntukkannya untuk mengairi tanaman).

Adapun parameter kualitas air yang dipantau sebanyak 17 parameter yang terdiri dari 8 parameter fisika yaitu warna, bau, kecerahan, DO, DHL, temperature, salinitas, TSS serta 9 parameter kimia yaitu pH, BOD, COD, klorin, nitrit, phosfat, sulfat, nitrat dan besi.  Kepulauan Riau merupakan provinsi dengan laju pertumbuhan penduduk tertinggi di Sumatera, yakni 4,99 persen per tahun dan merupakan tertinggi kedua setelah Papua. Sebanyak 56,34 persen dari penduduk Kepri terpusat di Kota Batam.  Kota Batam menjadi kota di Kepulauan Riau yang pertumbuhan penduduknya paling tinggi dalam satu dasawarsa terakhir, yakni 7,70 persen per tahun.   Hasil Sensus Penduduk 2010 di Kepulauan Riau menunjukkan Kota Batam sebagai daerah dengan penduduk terbanyak yaitu 949.775 jiwa, terdiri atas 486.404 laki-laki dan 463.371 perempuan (SLHD Provinsi Kepulauan Riau).

Penduduk di Kota Batam sebagian besar memanfaatkan air ledeng sebagai sumber air bersih.  Hal ini dikarenakan jenis tanah di Kota Batam yang tidak dapat menyimpan air dengan baik, sehingga lebih efektif jika menggunakan waduk buatan sebagai penampung air hujan.  Dalam hal air minum, sebanyak 71,95 persen rumah tangga menggunakan air kemasan sebagai air minum, sisanya menggunakan air ledeng, sumur dan sumber lainnya seperti mata air, air hujan dan air sungai (BPS Provinsi Kepulauan Riau).

Pengelolaan sumber daya air yang tidak berkelanjutan menyebabkan kekhawatiran bahwa ketersediaan dan kualitas cadangan air menjadi ancaman bagi penduduk setempat.  Di beberapa negara, masalah terbesar mengenai persediaan air bersih bukan bersumber dari kelangkaan air dibandingkan dengan jumlah penduduk, melainkan dari kekeliruan menentukan kebijakan dalam pemanfaatan air.

Semua orang tentunya berharap bahwa air seharusnya diperlakukan dengan bijak, dimanfaatkan secara bijak dan dijaga dari cemaran.  Namun pada kenyataannya, air selalu dihamburkan, dicemari dan disia-siakan.  Jika tidak melakukan perubahan kebijakan pengelolaan sumber daya air, maka bukan tidak mungkin, ancaman krisis air di Batam akan menjadi kenyataan dalam beberapa tahun ke depan. Penggunaan air harus mempertimbangkan daya dukung dan diiringi dengan upaya konservasi sumber daya air.

Sebagai warga yang baik, tentu kita perlu melakukan untuk mencegah ancaman kelangkaan air bersih. Di antaranya menggunakan air secara bijaksana, dengan kata lain menghemat air. Cara hemat air di rumah merupakan salah satu solusi dalam menghadapi krisis air bersih.  Dengan menghemat pemakaian air di rumah selain hemat uang juga menjadi langkah bijak bagi lingkungan hidup terutama demi ketersediaan air bersih.

Langkah kecil dan cara mudah yang dapat dilakukan untuk menghemat air di rumah yaitu matikan keran saat sedang menggosok gigi.  Membiarkan keran terbuka 1 menit sama saja dengan membiarkan 9 liter air terbuang percuma. Akan lebih hemat lagi jika menggunakan gelas sehingga air tidak mengucur terus-menerus. Jika mungkin, mandilah dengan menggunakan shower. Mandi dengan shower 3 kali lebih hemat air daripada mandi dengan gayung. Selain itu, segera perbaiki keran yang bocor. Kran bocor bisa membuang air bersih hingga 13 liter air per hari.

Gunakan kloset yang mengunakan dua sistem pembilasan air. Setiap sistem pembilasan bekerja sesuai dengan volume air yang dikeluarkan. Bila kloset hanya digunakan untuk buang air kecil, gunakan pembilasan dengan volume kecil yang tentunya lebih hemat konsumsi air. Pilihlah jenis mesin cuci yang hanya membutuhkan sedikit air.

Adapun jika minum air memakai gelas, isilah gelas dengan secukupnya sehingga air habis terminum seluruhnya. Letakkan sebuah ember atau tempat penampungan dibawah kran wudhu, air yang tertampung selama berwudhu bisa digunakan untuk membersih kamar mandi, WC, atau untuk menyiram tanaman. Kita juga bisa menggunakan air bekas cucian sayuran dan buah untuk menyiram tanaman. Selain hemat, air bekas cucian sayur, buah dan daging ternyata bisa menyuburkan tanaman.

Jika mungkin, hindari penggunaan selang. Gunakan kaleng penyiram tanaman atau ember untuk mencuci mobil. Siramlah tanaman di sore atau pagi hari agar air mudah meresap ke dalam akar. Penyiraman pada siang hari hanya membuat air menguap percuma.

Hal lain yang juga harus dilakukan adalah tidak menutup permukaan tanah dengan lapisan yang menghambat peresapan air. Salah satunya dengan membuat lubang-lubang biopori di taman atau di sekitar rumah. Lubang ini membantu mempercepat proses penyerapan air ke dalam tanah, sehingga dapat mengurangi jumlah air yang menguap bebas ke alam.

Tidak sulit bukan mengelola sumber daya air untuk mencegah kelangkaan air bersih. Kita hanya perlu kesadaran untuk melakukannya. Oleh karena itu, mari kita selamatkan air mulai saat ini.  Kalau bukan kita, siapa lagi?***

ASPEK KEADILAN DALAM SNMPTN 2013

TRI TARWIYANI

(Dosen Tetap Prodi Pendidikan Sejarah FKIP UNRIKA Batam)

Beberapa minggu lagi akan dilaksanakan ujian nasional (UN) bagi siswa-siswa sekolah menengah atas, tepatnya pada 16 April 2012 mendatang. Ujian akhir nasional atau dikenal dengan sebuatan UN atau UNAS, telah menjadi kegiatan rutin tahunan dari dinas pendidikan. Meskipun demikian, keberadaan UN masih tetap menjadi momok “menakutkan” sekaligus kecemasan dikalangan pendidik, siswa, dan  wali murid. Oleh: Tri Tarwiyani, S. Fil, M. Phil

UN diadakan pada hakikatnya untuk mengevaluasi standar pendidikan dasar dan menengah dalam skala nasional. UN seringkali dikaitkan dengan mutu pendidikan. Oleh karena itu, hasil UN menjadi tolak ukur keberhasilan sebuah sekolah. Hal ini berakibat pada maraknya praktek-praktek kecurangan, agar seuatu sekolah mampu meluluskan siswanya dengan prosentase maksimal dan nilai tinggi.

Praktek-praktek kecurangan itu antara lain dengan memberikan kunci jawaban melalui sms bahkan ada sebuah kecurangan dengan  diberi nama “serangan fajar”. “Serangan fajar” pada konteks ini, dimana para siswa diharuskan untuk datang lebih awal sebelum ujian dimulai dan mereka kemudian mendapatkan kunci jawaban.

Masih segar dalam ingatan kita bagiamana seorang siswa di Jawa Timur yang notabene adalah siswa terpandai di kelasnya mengaku, atas perintah gurunya harus membagi jawabannya kepada teman-teman sekelasnya. Uniknya, setelah hal ini di blow-up  media massa, dia dan keluarganya dikucilkan.

Kecemasan dan kekhawatiran tersebut di atas memang masuk akal. Ide awal UN, kelulusan siswa murni hasil UN tersebut. Jika melampaui atau minimal sama dengan standar kelulusan, maka siswa tersebut dinyatakan lulus. Rentang waktu berlangsung, penyelenggaraan UN terus mengalami perubahan kebijakan, termasuk dalam  penentuan kelulusan siswa. Jika pada awal pelaksanaan UN sekolah tidak dapat menentukan nilai kelulusan siswa, maka mulai tahun 2011 sekolah diberi kontribusi 50% untuk menentukan nilai akhir, sebagai nilai penentu kelulusan siswa. Sebuah kebijakan yang dirasakan cukup melegakan bagi pihak sekolah. meskipun kecemasan UN tidak begitu saja hilang dengan kebijaksanaan baru ini.

Kebijakan baru lain terkait dengan UN adalah dijadikan sebagai dasar untuk masuk ke perguruan tinggi negeri. SNMPTN melalui jalur tulis rencananya akan dihapuskan dan diganti dengan memperbesar prosentase penerimaan mahasiswa baru melalui jalur undangan.

Saya yakin kebijakan baru ini juga akan menimbulkan masalah baru, terutama jika dikaitkan dengan perguruan tinggi swasta. Pada saat ada pemberitaan tentang kebijakan ini, dalam hati saya bertanya apakah ini salah satu cara pemerintah untuk mengangkat UN?

Selama ini, perguruan tinggi swasta membuka penerimaan mahasiswa baik sebelum SNMPTN maupun sesudah SNMPTN jalur tertulis diadakan. Jika pada akhirnya kebijakan baru tadi diterapkan maka persoalan baru. Bagaimana dengan kualitas calon mahasiswa diperguruan tinggi swasta?

Asumsi dasarnya, jalur undangan didasarkan pada rekomendasi sekolah. Sekolah tentu akan merekomendasikan siswa-siswa terbaiknya untuk masuk ke perguruan tinggi negeri. Bagaimana dengan siswa-siswa yang tidak direkomendasikan sekolahnya? Otomatis mereka lebih memilih masuk perguran tinggi swasta. Hal ini berarti perguruan tinggi swasta dimungkinkan hanya akan mendapatkan calon mahasiswa dengan kualitas “di bawah” calon mahasiswa perguran tinggi negeri.

Namun demikian pernyataan ini tidak lantas dapat dijadikan sebagai sebuah kesimpulan akhir. Persoalan dimungkinkannya kecurangan pihak sekolah pada saat merekomendasikan siswanya, seperti membuat nilai-nilai dengan nilai tertentu agar anak didiknya dapat masuk ke perguruan tinggi negeri.

Saya kira sesuatu itu bisa diambil sebuah ukuran baik dan buruk, berhasil atau tidaknya, jika kondisi maupun situasi dari sesuatu itu sama. Jika situasi maupun kondisi tidak sama makam standarisasi agaknya menjadi sebuah pemaksaan, bahkan terasa tidak adil. Kita bandingkan saja, siswa di perkotaan dengan siswa di pedesaan dari sebuah provinsi. Daerah perkotaan, tentu mempunyai fasilitas yang sangat memadai, jika dibandingkan dengan daerah pedesaan. Daerah pedesaan minim dengan fasilitas sehingga untuk mengejar atau minimal menyamai kemampuan anak-anak di daerah perkotaan akan sangat sulit, karena fasilitas pendidikan mau tidak mau juga berpengaruh terhadap kemampuan seseorang.

Belum lagi jika standarisasi tersebut kita kaitkan dengan perbedaan proVinsi. Kemampuan siswa di DKI Jakarta tentu akan sangat berbeda jika dibandingkan dengan kemampuan siswa dari Papua. Jika kemudian standarisasi ini dijadikan pedoman sebagai jalan untuk masuk perguruan tinggi negeri, tentu banyak pihak akan dirugikan. Kita ambil contoh, jika standar untuk masuk ke perguruan tinggi negeri “A” nilai rata-ratanya 8,00 sedangkan di Papua hanya ada 10 siswa dengan standar nilai tersebut bukankah ini berarti hanya 10 siswa yang dapat masuk ke perguruan tinggi negeri tersebut. Sementara jika siswa di DKI Jakarta ada 100 orang dengan nilai rata-rata 8 maka ke 100 siswa tersebut akan dapat masuk ke perguruan tinggi negeri tersebut. berdasarkan jumlahnya maka dapat dimungkinkan perguruan tinggi negeri dapat didominasi oleh siswa dari daerah tertentu. Hal ini tentu akan menimbulkan kesenjangan di dunia pendidikan.

Persoalan ketidakadilan juga dirasakan bagi para siswa yang tidak direkomendasikan oleh sekolahnya. Bukankah pada akhirnya mereka tidak mempunyai pilihan lain kecuali masuk ke perguruan tinggi swasta? Bukankah hal ini juga berarti tidak adanya keadilan terkait dengan kesamaan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan sesuai dengan keinginan mereka?

Standarisasi melalui UN untuk mengukur kemampuan siswa dan keberhasilan sebuah sekolah dalam mendidik siswanya itu sah-sah saja, dengan catatan fasilitas sekolah sama diseluruh provins. Jika masih ada perbedaan fasilitas dan kemudian soal-soal ujian tersebut menggunakan ukuran kemampuan para siswa daerah tertentu, maka dapat dikatakan terjadi ketidakadilan terhadap siswa-siswa di lain daerah. Apalagi jika hasil UN ini menjadi bahan pertimbangan diterima atau tidaknya seseorang masuk ke perguruan tinggi negeri selain nilai raport tentunya.

Memang benar, keputusan dihapuskannya SNMPTN melalui jalur ujian tertulis dan memperbesar prosentase jalur undangan baru akan diputuskan setelah adanya evalusi UN tahun 2012 akan tetapi setidaknya pemerintah juga harus mempertimbangkan aspek-aspek lainnya, seperti aspek keadilan dan kesamaan kesempatan bagi setiap warga negara untuk mendapatkan pendidikan. Jika hasil evaluasi hasil UN sama dengan hasil penerimaan mahasiswa baru lewat jalur ujian tertulis, maka dapat dipastikan SNMPTN melalui jalur ujian tulis tahun 2013 dihapuskan, meskipun forum rektor masih akan mempertimbangkan kemungkinan adanya ujian tertulis pada penerimaan mahasiswa baru tahun 2012, dengan beberapa perubahan tentunya.

Penyelenggaran UN kali ini agaknya cukup penting. Hasil evaluasi penyelenggaraan UN akan menjadi tonggak sejarah baru SNMPTN, apakah kemudian kebijakan baru menghapuskan SNMPTN melalui jalur ujian tertulis akan benar-benar terwujud atau mungkin hanya akan menjadi sebuah wacana. Sekali lagi, pemerintah juga harus mempertimbangkan aspek keadilan bagi para siswa lainnya yang tidak termasuk “siswa pilihan” agar mereka juga diberi kesempatan untuk dapat masuk ke perguruan tinggi negeri. Pemerintah dalam hal ini jangan sampai hanya mempertimbangkan kepentingan tertentu.

Jika pada akhirnya kebijakan tersebut terlaksana, maka pemerintah harus benar-benar membuat langkah-langkah antisipasi agar penyelewengan-penyelewengan terkait dengan SNMPTN jalur undangan tidak terjadi, seperti adanya manipulasi nilai oleh sekolah. Selain itu, perlu juga dipertimbangkan perbedaan keadaan siswa dari semua provinsi di Indonesia sehingga tidak terjadi dominasi mahasiswa baru dari daerah tertentu. Selain itu perlu juga dipertimbangkan aspek keadilan bagi siswa-siswa “biasa” karena tidak semua siswa adalah siswa “unggulan” dan “pilihan”. ***

UJIAN NASIONAL DAN SISTEM PENDIDIKAN

Dusmar

Ka. Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Riau Kepulauan Batam

 

Kita bangsa Inonesia baru saja memperingati hari pendidikan nasional yang jatuh setiap  tanggal 2 mei,  bulan ini merupakan kado  istimewa  bagi para guru  atau lebih dikenal dengan pasukan Umar Bakhri paling tidak pada bulan ini pendidikan di negeri ini akan menjadi sorotan tajam pada bulan ini .

Mengenai masalah pedidikan, perhatian pemerintah kita masih terasa sangat minim. Gambaran ini tercermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit. Kualitas siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, biaya pendidikan yang mahal, bahkan aturan UU Pendidikan kacau . Dampak dari pendidikan yang buruk itu, negeri kita kedepannya makin terpuruk. Keterpurukan ini dapat juga akibat ketidak konsistennya para pihak yang berkepentingan dalam memajukan mutu pendidikan di negara ini

Membicarakan hal yang behubungan  dengan pendidikan merupakan hal yang  tidak akan habis-habisnya. dengan keadaan yang ada sekarang ini, kita melihat masih banyak masyarakat yang khawatir terhadap  pelaksanaan pendidikan kita di republik tercinta ini, terutama jika kita mencermati  pelaksanaan Ujian Nasional  baru saja siswa sekolah tingkat SD sampai SMA melakukan Ujian Nasional, yang adalah sebuah program yang sudah dipastikan  gagal yang terus dipertahankan. Singkat kata mengapa ujian nasional kita  katakan sebagai sebuah kegagalan, karena pemerintah memberi standar nasional untuk nilai kelulusan, padahal dalam sisitem pendidikan negara manapun kelulusan seorang siswa adalah ditentukan oleh pihak sekolah

Kita masih melihat masih banyaknya  pelaksanaan UN ( ujian nasional ) dilaksanakan dengan penuh ketidakjujuran dan diperparah lagi  ketidakmampuan para guru dalam melaksanakan tekanan tekanan dari Pemerintah , sehingga jika boleh kita  menyimpulkan pelaksanaan UN tidak lebih dari sebuah sandiwara nasional yang harus dijalankan para guru –  guru dan siswa, dalam pengawasan pelaksanaan ujian nasional guru dihadapkan dengan aturan-aturan yang tidak memungkinkan guru untuk berbuat banyak dalam pengawasan ujian nasional tersebut, sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak para  guru/pengawas ujian terpaksa membiarkan para siswa saling menyontek atau bekerja sama dalam pelaksanaan Ujian Nasional di sekolah, Para guru selalu mengajarkan kejujuran sebagai nilai yang harus dianut setiap siswa pada setiap  pelaksanaan ujian semester dan kenaikan kelas akan jauh berbeda tampilannya saat pelaksanaan ujian nasional. Guru sebagai pengawas seolah tutup mata dengan ketidakjujuran pelaksanaan ujian nasional di sekolah, ini merupakan dilema yang dihadapi guru pada kita saat ini.

Jika guru terlalu displin dalam pengawasan ujian nasional dikhawatirkan siswa secara mental merugikan siswa yang melaksanakan ujian sebagai konsekwensinya guru yang bersangkutan akan ditegur oleh kepala sekolah tempat asal mengajar dan yang lebih miris lagi di berbagai daerah para siswa mendemo pengawas yang disiplin dalam pengawasan ujian nasional.

Inilah persoalan yang dihadapi  para guru dihadapkan pada pilihan yang tidak menyenangkan,  ditambah lagi dengan tuntutan Pihak Diknas Pendidikan diberbagai daerah berlomba lomba untuk meningkatkan hasil Ujian nasional lebih tinggi dibandingan daerah lainnya. , pemerintah dalam hal ini diwakili oleh Diknas Pendidikan  terlalu berpatokan keberhasilan seorang siswa hanya diukur dengan peroleh ujian nasional, pada hal jika pemerintah membuka mata lebar-lebar bukankah keberhasilan siswa itu diukur tidak hanya dengan angka yang tertera di laporan hasil studi siswa saat pelaksanaan Ujian nasional.

Harapan  kita sebaiknya Pemerintah mengembalikan  kedudukan UN sebagai sarana Evaluasi, seperti EBTANAS dimasa Orba dulu. Lulus atau tidak seorang siswa ditentukan oleh masalah administatif dan afektif (sikap), bukan kognitif (pengetahuan). Dahulu, EBTANAS penting, tapi sebagai alat evaluasi, memberikan gambaran kasar kemampuan siswa. Jenjang pendidikan lebih tinggi akan menggunakannya sebagai salah satu alat penilaian, namun bukan satu – satunya. Nilai rapor, ada / tidaknya ‘catatan khusus’ (baik positif atau negatif) selama mengikuti jenjang berikutnya.  Dengan demikian  tujuan penilaiannya tercapai, tanpa terbiaskan oleh tekanan ujian.

Tidaklah mengherankan jika saat ini banyak masyarakat yang menyimpulkan bahwa sistem Pendidikan Nasional kita saat ini  telah kehilangan “ roh nasional “  akibat hilangnya nilai – nilai yang di inginkan oleh pendidikan itu sendiri . yang tercantum dalam  Sistem Pendidikan Nasional, antara lain menyatakan maksud pengajaran dan pendidikan yang berguna bagi kehidupan bermoral dengan menanamkan nilai nilai kejujuran dalam kehidupan, semuanya kita berharap semoga anak bangsa ini lebih mengutamakan kejujuran dalam setiap tindak tanduk dalam kehidupan sehari hari “

Sudah selayaknya  bangsa ini dengan  mengaplikasikan ajaran kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara yang sangat poluler di kalangan masyarakat  Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani. Kalimat terakhir yang selalu dipuja dan dijadikan motto Kementerian Pendidikan nasional dan Kebudayaan . “ Selamat hari Pendidkan nasional “

 

%d bloggers like this: